• Perjalanan Bangsa Portugis Menuju Kepulauan "Kaya" Nusantara

    Perjalanan Bangsa Portugis Menuju Kepulauan "Kaya" Nusantara.



    Latar Belakang Bangsa Eropa Melakukan Penjelajahan

    Bangsa Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang mencapai Kepulauan Nusantara. Nusantara. Masuknya Bangsa portugis ke nusantara tidak lepas dari keberhasilan Bangsa Eropa dalam memajukan teknologinya di awal abad ke-16, terutama dalam bidang kapal pesiar. keahlian baru bangsa Portugis dalam navigasi, pembuatan kapal, dan persenjataan, tidak terlepas dari kekuatan besar pengetahuan Bangsa Arab yang sedang berkembang pesat di kawasan Mediterania pada abad ke-15. Mereka mempelajari berbagai ilmu mengenai geografi dan astronomi yang memungkinkan mereka berani melakukan ekspedisi penjelajahan dan ekspansi.


    Kebijakan Kesultanannya Turki.

    Ketika jalur Laut Tengah terputus akibat jatuhnya Konstatinopel 1453 oleh penguasaan Muslim, yang pada waktu itu di kuasai Kesultanan Turki Ustmani dibawah pemimpinnya yaitu Sultan Mehmed 2 atau Sultan Muhammad Al Fatih. Sultan turki ini menjalankan politik yang mempersulit bangsa Barat. akibatnya jalur satu satunya melalui darat yang menghubungkan ke asia terputus. hal ini sangat mempengaruhi perekonomian negara eropa, termasuk portugis. oleh karena itu, bangsa rute barat yang berada dipelopori bangsa portugis berusaha keras mencari jalur alternatif lain dan baru untuk mendapatkan komoditas yang diperlukan oleh orang eropa khususnya rempah rempah.

    Awal Penjelajahan dan Perjalanan

    portugis pun semakin gencar melakukan eksplorasi, ekspedisi, dan penjelajahan ke afrika dan asia. maka ketika orang eropa yaitu portugis dan kemudian disusul oleh spanyol perjalanan ke wilayah timur ini di kenal dengan sebutan era penjelajahan samudra, yakni berlangsung pada tahun 1450 hingga 1650. Pada tahun 1488, Bartolomeu Dias berlayar ke pantai barat Afrika dengan menjemur Ghana, Angola, dan Namibia. Dias mengitari Tanjung Harapan, tapi belum berlabuh di tempat itu, dan terus menelusuri bagian timur Afrika melewati Mossel Bay dan Kwaaihoek (Afrika Selatan). Di pantai timur Afrika inilah, informasi dari saudagar-saudagar Islam tentang kekayaan rempah-rempah di India semakin terang. Dias bermaksud terus berlayar sampai ke India, namun terpaksa kembali lagi karena awak kapalnya menolak melanjutkan perjalanan. 


    Dalam pelayaran pulang inilah ia berlabuh di sebuah bebatuan tanjung di Afrika Selatan yang menghadap Samudera Atlantik, yang kemudian disebut Tanjung Harapan. Raja John II menamai tanjung itu Tanjung Harapan karena melalui penemuan tanjung tersebut ada harapan besar secara ekonomis dari rute terbukanya laut ke India dan Dunia Timur lainnya. Bartolomeu Dias sendiri sebelumnya menamainya “Tanjung Badai” (Cape of Storms, Cabo das Tormentas). Ungkapan “Selamat Tinggal Konstantinopel”, “Selamat Tinggal Ceuta” kemudian lahir bergabung dengan optimisme besar sejak ditemukannya Tanjung Harapan. Akan tetapi, ekspedisi Portugis ke India baru terwujud pada tahun 1497 di bawah pimpinan Vasco da Gama (1469-1524), hampir satu dekade setelah ekspedisi Dias.Berbekal informasi dari hasil ekspedisi Dias, rombongan da Gama menyusuri pantai barar Afrika, 


    Ia mengarungi Samudera Hindia dan tiba di Kaliikut, India (sekarang wilayah negara bagian Kerala) pada tahun 1498. Da Gama kemudian membangun benteng dan membuka kantor dagang di tempat itu. Portugis adalah negara Eropa pertama yang menduduki India. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Portugis bukanlah satu-satunya bangsa asing yang berdagang di India. Sudah lama orang-orang Arab menguasai perdagangan lada (Piper nigrum) di situ, terutama di sepanjang pantai utama Kalikut, Pantai Malabar. Jauh sebelum era kolonialisme, saudagar-saudagar Arab inilah yang pertama kali memperkenalkan lada ke negara-negara lain di Asia dan ke Eropa, baik melalui jalur darat (Jalan Sutra) maupun melalui jalur laut.Dalam kurun waktu yang panjang itu, saudagar-saudagar Arab ini lihai merahasiakan sumber atau lokasi keberadaan komoditas berharga ini. Kedatangan Portugis membuat kedudukan saudagar-saudagar Arab terancam. Terjadi konflik di antara mereka, yang diakhiri dengan kemenangan Portugis. 


    Ketika kembali ke Portugis, Vasco da Gama berhasil membawa rempah rempah yang dijual kembali dengan harga enam kali lebih besar dari biaya ekspedisinya. Ekspedisi berikutnya dipimpin oleh Pedro Alvares Cabral (1.1467/1468—m.1520) pada tahun 1500. Dalam perjalanan, karena cuaca buruk dan secara tidak sengaja berlabuh di Brazil, Amerika Selatan. Ia kemudian balik lagi ke India, masih pada tahun yang sama. Portugis kemudian membangun kekuatannya di wilayah Amerika Selatan sebagai hasil temuan yang tidak ditemukan dari penjelajahan Cabral. Baru di bawah Francisco de Almeida (ca. 1450-1510) pada tahun 1505, Portugis menancapkan kekuatan politik di India.


     Almeida diangkat menjadi wakil pemerintah Portugis di India. Dari Kerala, Portugis menguasai sumber kayu manis (Cinnamomum verum) di Sri Lanka. Kedatangan Portugis di Sri Lanka juga terjadi secara kebetulan. Ketika kapal-kapal Portugis tengah menjarah kapal-kapal Arab di Samudera Hindia, terjadi gelombang besar. Kapal-kapal mereka terombang-ambing oleh badai dan secara kebetulan berlabuh di sebuah pulau terpencil, yang ternyata adalah Sri Langka. P elaut sekaligus “Gubernur Jenderal” Portugis yang era kaitannya dengan kolonialisme-imperialisme Eropa di Indonesia adalah Afonso de Albuquerque (1453-1515). Ia menaklukkan Goa, India, pada tahun 1510 dan mengembangkannya sebagai pusat perdagangan yang ramai. 

    Perjalanan Menuju Kepulauan "kaya" Nusantara

    Portugis tidak kesulitan memperolah rempah-rempah di tempat ini. Dari Goa, ia kemudian melebarkan sayapnya ke Nusantara. Albuquerque-lah penjelajahan pertama dari Eropa yang sampai di Indonesia. setelah ia menaklukkan Kesultanan Malaka pada tahun 1511, yang saat itu diperintah oleh Sultan Mahmud Shah, portugis segera mencari tau info mengenai daerah asal sumber rempah rempah berada. kemudian Maluku pada tahun 1512 di bawah utusannya Antonio de Abreu dan Franciso Serrao. Makassar dikuasai pada tahun yang sama dan Timor pada tahun 1514. 


    Setelah menguasai Malaka, pada tahun 1512 Portugus terlibat komunikasi dengan kerajaan Sunda-Pajajaran untuk mengurus perjanjian dagang, terutama lada. Perjanjian dagang tersebut kemudian diwujudkan pada tahun 1522 dalam bentuk dokumen kontrak. Pada hari yang sama, di bangun sebuah prasasti yang disebut Prasasti Sunda-Portugal yang kemudian lebih dikenal dengan Padrao Sunda Kelapa, prasasti ini di bangun di atas tanah yang direncanakan untuk pembangunan benteng portugis. wilayahnya jika sekarang berada di jalan cengkeh dan jalan kali besar timur 1, jakarta barat.


    Persekutuan Portugis-Pajajaran kemudian mencemaskan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, terutama Kesultanan Demak. Khawatir akan pendudukan Jawa oleh Portugis, Demak menyerang Pajajaran pada tahun 1526 dan 1527. Kemungkinan besar, karena terdesak, serta mendapat perlawanan keras dari Kesultanan Demak, kelak Portugis lebih banyak beroperasi di Kepulauan Rempah-Rempah, yaitu Maluku. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, Portugis tetap menempatkan kapal-kapal dagangnya di Banten dalam jumlah terbatas. , Portugis melakukan ekspedisi ke daerah utama penghasil rempah-rempah, yaitu Maluku, pada tahun 1512. 


    Mereka membuat hubungan dagang dengan warga di Kepulauan Banda, Kepulauan Penyu dan Ternate. bahkan di Ambon, Portugis dapat mendirikan benteng di Pikaoli, Negeri Hitu, dan mamala. setelah menguasai daerah Maluku, portugis selanjutnya merintis poros perdagangan Ternate, malaka, goa, Lisbon. Di Ternate, Portugis menjalin persahabatan dan persekutuan dengan Kesultanan Ternate yang bercorak Islam. Portugis menjalin hubungan dagang dengan kesulranan tersebut, terutama rempah-rempah berupa cengkeh dan pala. Apalagi, kesultanan membolehkan Portugis membangun benteng, yang diberi nama Benteng Sao Paulo atau Benteng Gamalama.


    Selain melindungi kepentingan Portugis, membangun benteng merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwa Portugis berkomitmen menjaga dan melindungi Ternate dari ancaman musuh-musuh serta pesaing-pesaingnya. karena pada saat itu, Ternate memang tertarik untuk menerima Portugis, yaitu dalam rangka pesaingnya, yakni Kesultanan Tidore. Sejarah mencarat, sejak kemunculannya pada pertengahan abad ke-13, Kesultanan Ternate dan Tidore sudah saling berebut hegemoni. Ternate memperluas pengaruh ke Halmahera Utara, Kepulauan Lease, Ambon, Suru, Sula, dan Seram, sementara Tidore melakukan ekspansi ke Halmahera Tengah, Seram Timur, serta kawasan Raja Ampat di Papua. 


    Persaingan ini membuat mereka memilih mitra perselingkuhan yang berbeda. Ternate menambah Portugis pada tahun 1512, sedangkan Tidore bersekutu dengan Spanyol sepuluh tahun kemudian. Sepanjang sejarah, hanya dua kali dua kerajaan ini bersatu. Pertama, ketika penguasa Portugis menurunkan Sultan Tabariji dari Ternate (1533) dari singgasana. Kedua, saat Sultan Khairun dibunuh Portugis (1570). Monopoli Portugis atas perdagangan rempah-rempah di Nusantara berakhir sejak dikalahkan Sultan Baabullah dari Ternate pada tahun 1575 serta kemudian disingkirkan Belanda dari Ambon pada tahun 1599. Portugis kemudian menduduki Timor, Solor, dan Flores. 


    Selanjutnya, Belanda ternyata memiliki keinginan menduduki wilayah-wilayah tersebut (Timor, Solor, Flores), yang melahirkan sengketa baru antara kedua negara. Sengketa itu baru berakhir pada tahun 1859 melalui Kesepakatan Lisabon, di mana Portugis menyerahkan Hindia Timur, sebutan untuk Nusantara, kepada Belanda kecuali Timor-Timur (sekarang Timor Leste). Khususnya, Belanda harus membayar dana tambahan kepada Portugis sebesar 80.000 Golden untuk mendapatkan Pulau Flores. 


    Kerajaan Gojoseon, Kerajaan Tertua di Korea 


  • You might also like

    1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.